9 Mei 2013

LAPORAN EKOLOGI TANAH DAN TANAMAN



LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
EKOLOGI TANAH DAN TANAMAN
SURVEI LANGSUNG EKOLOGI HUTAN BIOLOGI UNAND
UNTUK MELIHAT SEBARAN FAUNA DAN BIOMASSA

NAMA          : SARI PERMATA WAHYUNI
BP                  : 1110212017
KELAS         : B


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah S.W.T dimana atas berkat dan rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Akhir Praktikum Ekologi Tanah dan Tanaman ini.
Laporan ini disusun  ini disusun sebagai tugas akhir dari Praktikum Ekologi Tanah dan Tanaman yang diberikan oleh Bapak Prof.Dr.Hermansyah MSc.  Selaku dosen sekaligus Penangggung Jawab Praktikum tersebut. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak  Prof. Dr. Hermansyah M.Sc yang telah banyak memberikan bantuan dan pengarahannya selama praktikum ini. Terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporanl ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan dan masih perlu banyak perbaikan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan laporan  ini, sehingga bermanfaat dalam pelaksanaan praktikum.







Padang,   April 2013


Penulis
Sari Permata Wahyuni




I.                   PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan. Ekologi Hutan adalah Ilmu yang mempelajari hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungan, hubungan ini sangat erat dan komplek sehingga menyatakan bahwa ekologi adalah biologi lingkungan (Eviromental biology).
Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik.
Tanah sebagai faktor abiotik merupakan tempat tinggal untuk bermacam- macam binatang kecil yang disebut fauna tanah. Fauna ini melakukan proses pembusukan sisa tanaman sehingga menjadi unsur hara dan menggali lubang serta terowongan yang menyebabkan terbentuknya saluran peredaran air dan udara di dalam tanah .
Keanekaragaman biota dalam tanah dapat digunakan sebagai indikator biologis kualitas tanah. Setiap hektar lahan kering umumnya dihuni lebih dari 20 grup fauna tanah, dan aktivitas setiap grup fauna memberikan pengaruh yang khas terhadap lingkungan lahan/ tanah. Aktivitas beberapa grup fauna tanah dapat menguntungkan bagi tanaman, seperti dekomposisi serasah pepohonan oleh beberapa organisme dan mikroorganisme pengurai.
Lapisan serasah atau lantai hutan merupakan seluruh bahan organik mati yang berada di atas permukaan tanah. Serasah atau sisa biomassa menjadi sumber bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah. Selain itu serasah yang jatuh di permukaan tanah dapat melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan dan mengurangi penguapan. Tinggi rendahnya peranan serasah ini ditentukan oleh kualitas bahan organik tersebut. Semakin rendah kualitas bahan, semakin lama bahan tersebut dilapuk sehingga terjadi akumulasi serasah yang cukup tebal pada permukaan tanah hutan.

1.2  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
1.       Membandingkan jumlah makrofauna hutan dan semak di Hutan Biologi Unand
2.       Membandingkan jumlah biomassa hutan dan semak di Hutan Biologi Unand






















II.        TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Lokasi Pengambilan Sampel Tanah.
            Hutan Biologi (Raya) Universitas Andalas merupakan bagian dari lahan kampus yang terletak di bukit Karimuntiang desa Limau Manis yang berada lebih kurang 13 km disebelah  timur kota Padang.Hutan Biologi ini terletak di kawasan Kampus
Universitas Andalas Limau Manis yang tergolong hutan hujan tropis dataran rendah, terletak pada ketinggian 250-460  meter di atas permukaan
            Imbang (1993) menyatakan bahwa curah hujan di daerah ini sangat tinggi dan tersebar merata sepanjang tahun. Dengan curah hujan rata-rata bulanan untuk dua bulan berturut – turut lebih besar dari 400 mm. Tipe iklim di kebun percobaan ini adalah tipe A, berdasarkan klasifikasi iklim Schmit dan Ferguson (1951). Daerah ini merupakan suatu daerah dengan curah hujan tertinggi di Sumatra Barat.
            Hutan ini berukuran lebih kurang 150 hektar, yang juga dijadian sebagai tempat konservasi ex-situ dan sumber daya genetik. Terdapat sekitar 100 plot yang dijadikat tempat penelitian oleh institusi.

2.2  Deskripsi Fauna Tanah
Organisme tanah atau disebut juga biota tanah merupakan semua makhluk hidup, baik hewan (fauna) maupun tumbuhan (flora) yang seluruh atau sebagian  dari siklus hidupnya berada dalam sistem tanah. Fauna tanah merupakan salah  satu makhluk hidup heterotrof yang hidupnya tergantung dari tersedianya makhluk hidup produsen utama di dalam tanah (Richards, 1974).
Sebuah klasifikasi umum mengkelaskan ukuran fauna tanah berdasarkan  panjang tubuhnya: mikrofauna, mesofauna, makrofauna dan megafauna.  Klasifikasi ini mencakup rentang ukuran dari yang terkecil sampai terbesar. Lebar   tubuh fauna itu berhubungan dengan mikrohabitatnya (Coleman et al., 2004).
(1) Mikrofauna, memiliki rentang ukuran tubuh 20 μm sampai 200 μm. Hanya  ada satu kelompok pada kategori ini, yaitu Protozoa, meskipun ukuran terkecil  dari Tungau, Nematoda, Rotifera, Tardigrada dan Crustacea dapat
       dimasukkan pada rentang ukuran tubuh ini.
(2) Mesofauna, memiliki rentang ukuran tubuh 200 μm sampai 1 cm. Kelompok  Mikroarthropoda (Acari/tungau dan Collembola) adalah anggota penting dalam grup ini yang juga meliputi Nematoda, Rotifera, Tardigrada serta sebagian besar kelompok Araneida (laba-laba), Chelonethi (kalajengking), Opiliones Enchytraeidae, larva serangga, ukuran terkecil dari kaki seribu dan  Isopoda.
(3) Makrofauna, memiliki ukuran tubuh lebih dari 1 cm. Kategori ini meliputi  kelompok Lumbricidae, Mollusca, serangga, Arachnida yang berukuran besar  dan vertebrata kecil penghuni tanah.
            Beberapa fauna tanah merupakan herbivora, karena mereka memakan  langsung akar tanaman hidup, tetapi paling banyak yang memakan bahan tanaman  mati, mikroba yang berasosiasi dengan akar tanaman mati, atau kombinasi dari  keduanya. Fauna tanah lainnya adalah karnivora, parasit dan predator (Coleman et  al., 2004).
            Selain itu pengelompokan fauna tanah didasarkan keberadaannya di dalam tanah dibagi menjadi empat kategori, yaitu transient, temporary, periodic dan  permanent. Pengelompokan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengelompokkan Fauna Tanah Berdasarkan Keberadaan di dalam Tanah
Kategori
Keterangan
Contoh Fauna
Transient
Fauna yang meletakkan telur dan  kepompongnya di dalam tanah, tetapi  ketika masuk tahap kehidupan yang aktif  tidak lagi berada di dalam tubuh tanah
Beberapa insekta

Temporary
Awal kehidupan aktifnya berada di dalam  tanah, sedangkan kehidupan selanjutnya  berada di luar tanah
Larva dari insekta

Periodic
Fauna yang sering sekali keluar masuk tanah
Bbrapa insekta
Permanent
Seluruh siklus hidupnya berlangsung di
dalam tanah
Collembola, Acari
 Sumber: Hole (1981) dalam Ma'shum et al. (2003)

2.3 Peranan Fauna Tanah
            Wardle (2002) dalam Coleman et al. (2004) mengemukakan tiga tingkat  partisipasi fauna tanah terhadap proses terbentuknya tanah. Sebagai ˝perekayasa  ekosistem˝, seperti cacing tanah, rayap dan semut dapat mengubah struktur fisik  tanah serta mempengaruhi ketersediaan nutrisi dan aliran energi bagi organisme   lain. Sebagai ˝transformator serasah˝, seperti microarthropods, fragmen serasah yang membusuk dapat meningkatkan ketersediaan mikroba. Sebagai ˝mikrojejaring makanan˝, termasuk kelompok mikroba dan mikrofauna predator  (Nematoda dan Protozoa). Ketiga tingkat partisipasi ini beroperasi pada ukuran,  tata ruang dan skala waktu yang berbeda.
            Serangga pemakan bahan organik yang mambusuk, membantu merubah  zat-zat yang membusuk menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Banyak jenis  serangga yang meluangkan sebagian atau seluruh hidup mereka di dalam tanah.  Tanah tersebut memberikan serangga suatu pemukiman atau sarang, pertahanan  dan makanan. Tanah diterobos sedemikian rupa sehingga tanah menjadi lebih  mengandung udara, tanah juga dapat diperkaya oleh hasil ekskresi dan tubuhtubuh serangga yang mati. Serangga tanah memperbaiki sifat fisik tanah dan  menambah kandungan bahan organiknya (Borror et al., 1992).
            Fauna tanah memainkan peranan yang sangat penting dalam perombakan zat atau bahan-bahan organik dengan cara : (1) Menghancurkan jaringan secara fisik dan meningkatkan ketersedian daerah bagi aktivitas bakteri dan jamur, (2) Melakukan perombakan pada bahan pilihan seperti gula, sellulosa dan sejenis lignin, (3) Merubah sisa-sisa tumbuhan menjadi humus, (4) Menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian atas, dan (5) Membentuk bahan organik dan bahan mineral tanah (Barnes, 1997).
            Menurut Setiadi (1989), peranan terpenting dari organisme tanah di dalam ekosistemnya adalah sebagai perombak bahan anorganik yang tersedia bagi tumbuhan hijau. Nutrisi tanaman yang berasal dari berbagau residu tanaman akan mengalami proses dekompososo sehingga terbentuk humus sebagai sumber nutrisi bagi tanah. Dapat dikatakan bahwa peranan ini sangat penting dalam dinamika ekosistem alam.
            Suharjono (1997) menyebutkan beberapa jenis fauna permukaan tanah dapat digunakan sebagai petunjuk (indikator) terhadap kesuburan tanah atau keadaan tanah. Fauna tanah memperbaiki sifat fisik tanah dan menambah kandungan bahan organiknya (Borror dkk, 1992). Pengaruh fauna  tanah terhadap sifat tanah dalam ekosistem dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Fauna Tanah terhadap Sifat Tanah dalam Ekosistem
Fauna Tanah
Aktivitas
Pengaruh terhadap Tanah
Mikrofauna
Mengatur populasi bakteri
dan fungi

Perombakan unsur hara
Mempengaruhi struktur agregat
tanah dan berinteraksi dengan
mikroflora

Mesofauna
Mengatur populasi fungi dan
mikrofauna
Perombakan unsur hara
Menghancurkan sisa
tanaman
Menghasilkan fecal pellets

Menciptakan biopore
Meningkatkan humifikasi
Makrofauna
Menghancurkan sisa
tanaman
Merangsang kegiatan
mikroorganisme

Mencampurkan bahan organik
dan bahan mineral
Penyebaran bahan organik dan
mikroorganisme
Menciptakan biopore
Meningkatkan humifikasi
Menghasilkan fecal pellets
Sumber: Hendrix et al. (1990) dalam Coleman et al. (2004)

2.4 Indeks Diversitas (Keanekaragaman) Fauna Tanah
            Odum (1993) dalam Wulandari (1999), menyatakan bahwa ada beberapa parameter yang dapat diukur untuk mengetahui keadaan suatu ekosistem, misalnya dengan melihat keadaan nilai keanekaragaman. Keanekaragaman fauna tanah dapat dilihat dengan menghitung indeks diversitasnya. Ada dua faktor penting yang mempengaruhi keanekaragaman serangga tanah, yaitu kekayaan spesies dan kemerataan spesies. Pada komunitas yang stabil indeks kekayaan jenis dan indeks kemerataan jenis tinggi, sedangkan pada komunitas yang terganggu karena adanya campur tangan manusia kemungkinan indeks kekayaan jenis dan indeks kemerataan jenis rendah.
            Untuk mengetahui kelimpahan, biomassa dan keanekaragaman fauna tanah serta aktivitasnya di hutan, kebun dan sawah tadah hujan dapat dievaluasi dengan berbagai metode seperti Litterbag dan Bait lamina.

2.4.1 Faktor yang mempengaruhi Aktivitas Fauna Tanah
            Aktivitas fauna tanah pada umumnya dipengaruhi oleh pH, kelembaban dan suhu tanah, reproduksi dan metabolisme, kandungan bahan organik  (Wallwork, 1970) serta kehadiran pesaing, pemangsa dan struktur tanah  (Purwowidodo, 2005) Agroekosistem dengan pengolahan lahan yang secara fisik mempengaruhi agregasi tanah juga mempengaruhi dinamika organisme tanah. Pengaruh penghancuran agregat tanah dalam pengolahan berkaitan erat dengan peningkatan laju dekomposisi bahan organik yang akhirnya berkaitan dengan aktivitas biota tanah. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi aktivitas organisme tanah adalah ketersediaan hara dalam tanah, air tanah, atmosfer tanah,potensi redoks tanah, kemasaman (pH) tanah, temperatur tanah dan cahaya dalam tanah (Makalew, 2001).
Tian et al. (1997) menyatakan bahwa bahan organik merupakan sumber  energi bagi fauna tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan  menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat,  terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Fauna tanah berperan dalam proses humifikasi dan mineralisasi atau  pelepasan hara, bahkan ikut bertanggung jawab terhadap pemeliharaan struktur tanah. Mikro flora dan fauna tanah saling berinteraksi karena bahan organik menyediakan energi untuk tumbuh.

2.4.2 Dekomposisi Bahan Organik
            Bahan organik adalah semua fraksi bukan mineral. Bahan organik  merupakan sisa tanaman dan binatang sebagian atau seluruhnya yang telah  mengalami dekomposisi oleh jasad mikro tanah (Soepardi, 1983). Dekomposisi  bahan organik yang lebih cepat terjadi pada suhu tinggi menyebabkan penurunan
ketersediaan serasah.
            Serasah adalah tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya diatas lantai hutan atau kebun. Tanaman memberikan masukkan bahan organik melalui daun-daun, cabang dan ranting yang gugur, dan juga melalui akar-akarnya yang telah mati. Serasah yang jatuh di permukaan tanah dapat melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan dan mengurangi penguapan. Tinggi rendahnya peranan serasah ini ditentukan oleh kualitas bahan organik tersebut. Semakin rendah kualitas bahan, semakin lama bahan tersebut dilapuk sehingga terjadi akumulasi serasah yang cukup tebal pada permukaan tanah hutan.
            Dekomposisi serasah adalah perubahan secara fisik maupun kimiawi yang  sederhana oleh organisme tanah (bakteri, fungi dan hewan tanah) atau sering  disebut juga mineralisasi yaitu proses penghancuran bahan organik yang berasal dari hewan dan tanaman menjadi senyawa-senyawa anorganik sederhana (Sutedjo et al., 1991). Ma’shum et al. (2003) menyatakan proses dekomposisi bahan organik di dalam tanah memiliki beberapa tahapan proses. Tahapan pertama adalah tahap penghancuran bahan organik segar menjadi partikel yang berukuran kecil-kecil yang dilakukan oleh cacing tanah dan makrofauna yang lain. Tahapan selanjutnya yaitu tahapan transformasi, dimana pada tahap ini, sebagian senyawa organik akan terurai dengan cepat, sebagian terurai dengan kecepatan sedang dan bagian yang lain terurai secara lambat.






 III.      METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat dan Waktu
            Praktikum Ekologi Tanah dan Tanaman dilaksanakan pada hari Sabtu 2 Maret 2013 bertempat di plot vegetasi semak dan plot No.30 Hutan Biologi Universitas Andalas. Serta pengamatan Laboratorium di Laboratorim Fisika Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat dan Bahan
            Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Sekop mini, monolit,kayu, tali plastik, plastik sampel, oven, loupe, gelas piala, kain kasa, kamera digital, ayakan, corong, timbangan analaitik, bola lampu, buku identifikasi fauna tanah dan alat tulis menulis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 70%.

3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi lapang, dan pengamatan di Laboratorium Fisika Tanah Fakultas Pertanian, Unand.

3.4 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah makrofauna tanah dan biomassa pada vegetasi semak dan vegetasi hutan plot nomor 30 pada hutan Biologi Universitas Andalas, Padang.

3.5 Cara Kerja
3.5.1. Pengambilan Biomassa di lapangan
            Tentukan terlebih dahulu lokasi untuk pengambilan sampel. Petak lokasi berukuran 10 x 10 m yang dibatasi dengan tali plastik pada vegetasi semak dan vegetasi hutan. Dalam petak lokasi ukur permukaan tanah dengan panjang dan lebar 50 x 50 cm (posisi dipilih sendiri) kemudian beri tanda dengan menancapkan beberapa kayu pada empat sisinya untuk mempertegas batas petak sampel dalam petak lokasi. Kumpulkan semua biomassa dari tanaman yang berada didalam petak sampel tersebut kedalam plastik sampel. Beri label masing- masing plastik dengan nama plot 1 dan plot 2 untuk vegetasi semak dan hutan.

3.5.2 Pengambilan Sampel Tanah di Lapangan
            Pada petak sampel yang sama tempat pengambilan biomassa, dilakukan juga pengambilan sampel tanah. Pengambilan sampel tanah ini dilakukan dengan menggunakan monolit yang dibenamkan kedalam tanah hingga permukaan atas monolit sama datar dengan permukaan tanah. Kemudian ambil sampel tanah tersebut dengan cara menggali pinggiran monolit dengan skop mini sampai batas bawah monolit dan potong bagian bawah dengan pisau tajam sehingga sampel tanah yang didapat berbentuk balok atau batangan. Masukan sampel tanah kedalam plastik sampel dan beri label masing-masingnya. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 1.
Gambar 1. Cara Pengambilan Sampel Tanah di Lapangan
           
3.5.3 Pemisahan Kategori Dekomposisi Biomassa di Laboratorium
            Selanjutnya sampel biomassa atau serasah dibawa ke Laboratorium untuk dilakukan pemisahan kategori dekomposisi. Terdapat 3 kategori dekomposisi yaitu (1) fresh litter merupakan daun,batang,bunga tanaman yang masih dalam keadaan utuh atau sedikit terpecah. (2) Terfermentasi yaitu serasah telah memecah menjadi komponen – komponen yang lebih kecil ukurannya dan melapuk. (3) Humifikasi yaitu serasah yang hampir terurai sempurna dan menyatu dengan tanah. Serasah yang lolos ayakan merupakan kategori terhumifikasi sedangkan yang tidak adalah kategori terfemntasi. Sedangkan untuk kategori fresh litter dapat dilih secara langsung. Kemudian masing- masing kategori ditimbang menggunakan timbangan analitik.

3.5.4. Identifikasi Fauna Tanah di Laboratorium
            Cara kerjanya timbang sampel tanah yang telah diambil di lapangan untuk mengetahui berapa beratnya, lalu masukkan kedalam sebuah corong tetapi sebelumnya sampel tanah tersebut telah dihancurkan menjadi gumpalan- gumpalan tanah yang berukuran kecil agar muat didalam corong. Letakkan gelas piala berukuran 100 ml dibagian bawah corong (bagian yang lancip) yang telah diisi dengan lebih kurang 25 ml etanol. Gelas piala digunakan sebagai penampung makrofauna tanah yang jatuh/keluar lewat bawah corong. Tempatkan corong serta gelas piala tersebut dibawah sinar lampu neon 100 watt. Letakkan lampu neon ± 2 cm diatas corong. Lakukan pemanasan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan untuk pengamatan dalam praktikum ini.
            Selanjutnya lakukan identifikasi terhadap jenis dan jumlah makrofauna yang turun/jatuh dari corong kedalam cairan etanol didalam gelas piala.














IV.       HASIL DAN PEMBAHASAN
                                               
4.1 Jumlah Makrofauna yang Ditemukan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan di lapangan dan laboratorium didapatkan jumlah makrofauna tanah yang terlihat pada tabel 3 berikut ini :
Tabel  3. Makrofauna Tanah yang Ditemukan pada Masing-Masing Plot

Waktu Pengamatan
Jumlah (ekor)
Plot 1 (vegetasi semak)
Plot 2 (vegetasi hutan)
05 Maret 2013         12.00 am
 12
10
06 Maret 2013         09.50 am
3
33
07 Maret 2013         11.30 am
8
10
08 Maret 2013         11.23 am
0
24
13 Maret 2013         11.40 am
26
61
Total
49
138

            Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah makrofauna  pada plot 2 yang berada pada lokasi vegetasi hutan  lebih banyak dibandingkan plot 1 yang berada pada vegetasi semak. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan makrofauna tanah sangat bergantung pada faktor lingkungan. Suin (1997) menjelaskan bahwa fauna tanah sangat ditentukan/ bergantung pada habitatnya karena keberadaan dan kepadatan populasi dari suatu jenis fauna tanah disuatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah tersebut. Dengan kata lain keberadaan dan kepadatan populasi dari suatu jenis fauna tanah disuatu daerah sangat tergantung   dari faktor lingkungan. Dimana salah satu faktor tersebut adalah kandungan bahan organik tanah (kandungan BO pada jenis vegetasi hutan > vegetasi semak).
            Suin (1997) menyatakan bahwa salah satu faktor yang menetukan kepadatan organisme tanah adalah materi atau bahan organik. Materi organik tanah merupakan sisa-sisa tumbuhan, hewan organisme tanah, baik yang telah terdekompisisi maupun yang sedang terdekomposisi. Dari Tabel 4. Data hasil pengambilan biomassa (serasah) pada plot 1 (vegetasi semak) dan plot 2 (vegetasi hutan) terlihat bahwa jumlah total serasah vegetasi hutan  jauh lebih berat daripada vegetasi semak.


Tabel 4. Penghitungan Berat Total Biomassa (serasah)

Kategori
Berat (gr)
Plot 1 (vegetasi semak)
Plot 2 (vegetasi hutan)
Fresh
18,73
33,28
Kayu / batang
25,25
207,36
Terfermentasi (melapuk)
59,16
234,15
Humifikasi
6,23
11,20
Total
109,37
485,99

            Terlihat bahwa berat total biomassa pada vegetasi hutan jauh lebih besar daripada vegetasi semak pada satuan luasan yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa kandungan bahan organik yang jauh lebih besar pada plot 2            (vegetasi hutan). Produktivitas serasah penting diketahui dalam hubungannya dengan pemindahan energi dan unsur-unsur hara dari suatu ekosistem. Adanya suplai hara berasal dari daun, buah, ranting, dan bunga yang banyak mengandung hara mineral akan dapat memperkaya tanah dengan membebaskan sejumlah mineral melalui dekomposisi (Datmanto 2003).
            Serasah atau biomassa  tanaman menjadi sumber makanan bagi organisme yang menjadi konsumen utama, begitu seterusnya hingga menjadi humus. Sehingga semakin banyak jumlah total serasah dalam suatu luasan lahan, maka semakin banyak pula sumber makanan untuk nutrisi pertumbuhan dan perkembangan fauna tanah. Hardjowigeno (2007) menjelaskan bahwa suatu perubahan bahan organik kasar menjadi humus hanya terjadi karena adanya organisme hidup di dalam atau diatas tanah dan saling berhubungan satu sama lain dengan lingkungan dalam pem bentukan humus tumbuhan yang merupakan produsen utama.




4.2 Identifikasi Makrofauna Tanah
            Dari pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium, terdapat beberapa makrofauna yang dapat diidentifikasikan. Makrofauna tersebut antara lain :
a) Cacing
Cacing tanah merupakan fauna tanah yang umum dijumpai, salah satu fauna tanah yang penting dan berpengaruh besar dalam sistem tanah. Fauna tanah ini memiliki tubuh yang lunak, terdiri dari beberapa segmen dan rentang ukuran tubuh yang luas, yaitu dari beberapa milimeter sampai 1 meter. Cacing tanah memproduksi kotoran (kasting) yang berpengaruh bagi struktur tanah (Coleman et al., 2004). Iswandi (1990) menyebutkan bahwa cacing tanah sangat sensitif terhadap kemasaman tanah. Cacing tanah menyukai habitat yang lembab. Mereka memerlukan bahan organik dan akan hidup baik di daerah yang dapat menyediakan banyak bahan organik (Soepardi, 1983).

b) Semut dan Rayap
Semut terdapat hampir di semua habitat, dimulai dari tempat yang lembab sampai panas (Wallwork, 1970). Semut dan rayap merupakan serangga sosial yang hidup secara berkoloni dan membentuk sarang atau gundukan tanah sebagai tempat berlindung. Biasanya jumlah koloni dari serangga sosial ini terdiri dari ratusan, ribuan sampai jutaan individu (Wallwork, 1982). Menurut Richards (1974), rayap dapat dikelompokkan berdasarkan makanannya, yaitu rayap pemakan kayu, pemakan humus atau perombak organik dan pemakan fungi. Rayap dapat hidup pada habitat yang kering.

c) Coleoptera (kumbang)
Coleoptera merupakan salah satu dari insekta yang tinggal di dalam atau di atas tanah dalam bentuk larva dan dewasa. Kebanyakan merupakan hewan kecil predator, tetapi dapat juga memakan bahan-bahan tumbuhan, jamur, alga, kayu, kotoran, bangkai dan sebagainya. Jumlah kumbang sangat besar dan habitatnya bervariasi. Beberapa spesies menghabiskan hidupnya di dalam sampah, sedangkan yang lainnya menggali tanah dengan kedalaman beberapa sentimenter serta
membawa kotoran atau bentuk bahan organik lainnya ke dalam tanah tersebut
(Adianto, 1993).
d) Collembola dan Acari
Collembola hanya ada pada keadaan yang lembab, tetapi beberapa dari mereka dapat tahan terhadap kekeringan sampai batas tertentu. Makanan Collembola sangat bervariasi, yaitu bakteri, jamur, hifa dan spora, mendekomposisi bahan organik, kotoran, tanaman serta hewan. Collembola tidak berperan langsung dalam penyediaan nutrisi tanah, tetapi mereka aktif dalam fragmentasi serasah tanaman dan dalam hal ini dapat berperan langsung terhadap
tanah (Richards, 1974).
Acari/tungau merupakan fauna tanah yang keberadaannya paling banyak diantara fauna tanah lainnya. Acari terdiri dari empat jenis, yaitu: Prostigmata, Mesostigmata, Astigmata dan Cryptostigmata. Anggota tungau Prostigmata dan Mesostigmata biasanya aktif berkembang di dalam tanah dan beberapa diantaranya bersifat predator. Beberapa tungau Cryptostigmata berukuran lebih kecil, pergerakannya lambat dan bersifat detritivor. Tungau Astigmata tidak selalu berada di dalam tanah (Richards, 1974).










 V.       KESIMPULAN SARAN
5.1. Kesimpulan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapat kesimpulan adalah sebagai berikut :
   Jumlah makrofauna yang berhasil ditemukan lebih banyak berada pada vegetasi hutan dibandingkan vegetasi semak.
   Jumlah kandungan bahan biomassa pada luas petakan yang sama lebih besar ditemukan pada vegetasi hutan dibandingkan vegetasi semak sehingga kandungan bahan melapuk akan lebih tinggi.
   Faktor lingkungan berperan sangat penting dalam menentukan berbagai pola penyebaran fauna tanah. Faktor biotik dan abiotik bekerja secara bersama- sama dalam suatu ekosistem, menentukan kehadiran, kelimpahan, dan penampilan organisme.

5.2. Saran
     Sebaiknya gunakan Invertebrate Soil Key dan Classification Key untuk memudahkan identifikasi jenis makrofauna tanah yang ditemukan
   Lakukan setiap praktikum dengan bersungguh-sungguh agar terasa manfaatnya bagi anda.







DAFTAR PUSTAKA
Barnes, B. V., Donald R. Z., Shirley R. D. And Stephen H. S. 1997. Forest Ecology. 4 th Edition. New York. John Wiley and Sons Inc.
Borror, D.J,. Triplehorn, C.A., dan Johnson, N.F. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi keenam. Terjemahan oleh Soetiyono Partosoedjono. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Hole FD, Mc-Cracken RJ. 1981. Soil Genesis Classification. Iowa: Iowa State University Press.
Imbang, I. N. Dt. R. 1993. Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unand di Limaumanis dan Lingkungannya. Stasiun Penelitian Fakultas Pertanian Unand. Payakumbuh. 16 Hal.
Odum. E. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta : UGM Press.
Purwowidodo. 1998. Mengenal Tanah Hutan (Penampang Tanah). Laboratorium Pengaruh Hutan Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Setiadi, Y. 1989. Pemanfaatan Mikro Organisme dalam Kehutanan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antara Universitas Bioteknologi. IPB. Bogor.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Suhardjono, Y. R. 1997. Perbedaan Lima Macam Larutan yang Digunakan dalam Perangkap Sumuran pada Pengumpulan Serangga Permukaan Tanah. Lampung : Prosiding Seminar Biologi XV.
Sutedjo dan Kartasapoetra AG. 2005. Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Wallwork, J.A. 1970. Ecology of Soil Animals. London: Mc.Graw-Hill.



LAMPIRAN
       
      Petak Lokasi Vegetasi Semak(I)                           Petak Sampel(I)
   
   Pengumpulan Serasah          Serasah semak (I)                 Serasah hutan (II)
           
    Plot (II) vegetasi hutan
          

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar